Link

[Oneshot] Liefde

HAI, maafkan kalau ceritanya gak jelas. Ini adalah tulisan yang saya buat dengan terburu-buru nyaris setahun yang lalu. Hehe.

***

Suara dentingan bel cafe ini menyentakkan pikiranku yang beberapa menit terakhir melalang-buana entah kemana. Kualihkan pandanganku kepada pengunjung yang baru saja memasuki café yang letaknya masih dalam satu area dengan UVA, semacam nickname dari salah satu perguruan tinggi yang merupakan kebanggaan negari kincir angin ini, University of Amsterdam. Seorang pria oriental yang baru saja masuk bukanlah pelanggan baru café ini, setiap jam makan siang lelaki itu dipastikan akan mampir kesini dari senin sampai jumat. Awal kali melihatnya beberapa bulan yang lalu, aku sempat tertegun beberapa saat karena wajahnya seakan mengajakku bernostalgia ke masa lampau dimana aku menghabiskan masa kecilku bersama seseorang yang serupa dengan pria itu. Tetapi aku menyadari sesuatu, pria ini bukanlah seseorang dari masa laluku, kepribadian mereka sungguh berbeda. Pria ini tampak dingin dan seakan tak teraih, bukan dia yang selalu hangat dan membuatku nyaman. Ya, tentu saja mereka berbeda. Namun, ada satu hal yang membuat mereka sama. Hmm, mereka sama-sama sukses memenuhi pikiranku di saat aku sedang menyendiri atau melamunkan sesuatu.

Selama beberapa minggu sejak pertama kedatangannya, aku perhatikan dia akan selalu memesan makanan runtut dari daftar makanan café paling atas hingga paling bawah. Hari ini adalah kamis, ah biar kutebak dia akan memesan Waterzooi, makanan khas daerah selatan Belanda ini memang paling cocok dinikmati saat musim dingin seperti ini. Waterzooi adalah semacam makan berbentuk sup yang pada awalnya menggunakan ikan sebagai bahan utamanya, namun pada akhirnya warga Belanda juga bisa mengganti ikan dengan ayam dengan alasan lebih mudah didapatkan. Rebusan ayam atau ikan tadi akan dipadukan dengan berbagai macam jenis sayuran seperti pada sup umunya, dengan tambahan telur, krim dan mentega. Masyarakat di sini umumnya lebih senang menyantapnya dengan Baguette, semacam roti tawar khas Belanda.

Ah ya, aku adalah seorang gadis perawakan Belanda-Korea. Ah tidak, tiga per empat darahku adalah darah Korea. Ayahku mempunyai setengah darah Korea dari nenekku, dan ibuku adalah orang Korea Tulen. Mereka pun sekarang lebih berdomisili di Seoul setelah sebelumnya selama 15 tahun tinggal di Leiden, salah satu kota di bagian barat Belanda. Tinggal aku di sini yang harus menyelesaikan studiku yang hanya tinggal beberapa saat lagi. Aku sengaja mengisi waktu luang dengan bekerja sebagai penjaga kasir di café ini selain untuk menghilangkan kejenuhanku selama pengerjaan tugas akhirku juga karena ini sudah impianku sejak lama untuk berlama-lama berada di tempat dimana kau bisa mencium aroma makanan setiap saat. Apalagi aku adalah penggemar berat masakan negeri yang terkenal akan bunga tulip ini.

“Goedemiddag, kan ik u ergens mee helpen?”

“Aku pesan satu porsi Waterzooi dan Lemon Tea.” Bingo. Sesuai dugaanku.

“Baik, ada lagi tuan?”

“Tidak, itu cukup.”

“Semuanya7,5 euro.”

Dia mengeluarkan pecahan 10 euro dan aku dengan sigap menyiapkan kembaliannya.

Dank u.”

Niet te danken.”

Dia adalah salah satu pelanggan paling dingin yang pernah aku temui. Sejak pertama kedatangannya, sedetikpun aku tak pernah melihatnya melempar senyum. Hmm, jika saja dia tidak membuatku penasaran dan berujung pada  memikirknnya tanpa henti, aku tidak akan pernah menghiraukannya.

Sebentar lagi adalah waktu makan siang dan jadwal pergantian shift kerja bagi pelayan café ini. Setiap shift memang bekerja selama 7 jam sehari dimana café ini beroperasi mulai pukul 7 pagi hingga 9 malam dengan menwarkan sajian khas Belanda untuk sarapan, makan siang, dan juga makan malam. Kami juga menyediakan panganan untuk Koffietijd yang berarti coffee time, biasanya pagi hari antara jam 10-11, dan malam antara jam 7-8 setelah makan malam. Meski namanya koffietijd, yang disajikan tidak hanya kopi atau teh. Café ini juga menyediakan minuman lainnya dengan rasa manis, asam, atau pahit yang disajikan, tentunya hal ini untuk mengimbangi sajian utama pada malam hari. Pilihan menu makan siangku jatuh pada Uitsmijter Spek En Kaas. Ini adalah salah satu kudapan paling menjual selama jam makan siang di café kami. Telur goreng dengan daging asap dan keju lengkap disajikan di atas roti tawar cocok bagi pecinta masakan gurih atau asin yang ingin mengisi perut.

Jalanan sudah tidak sepadat jam makan siang ketika aku melangkahkan kakiku keluar dari café menuju flatku yang letaknya hanya berkisar 200 meter. Kueratkan mantel berwarna hijau pupus milikku ketika hawa dingin mulai terasa semakin menusuk di akhir bulan November ini. Sejak tinggal di Amsterdam belasan tahun yang lalu, aku kurang begitu menyukai musim dingin, musim favoritku tentu saja musim semi, terutama di bulan Maret hingga Mei. Pada bulan-bulan itu, Belanda sepuluh kali lipat lebih cantik menurutku. Tentu saja karena bunga tulip akan mekar pada saat itu. Biasanya, aku rutin berlibur setiap tahunnya dengan mengunjungi Keukenhof-salah satu taman bunga terbesar di dunia- yang berada di Kota Lisse, tidak jauh dari Amsterdam. Dari Amsterdam central pengunjung dapat Bandara Schiphol, dari Bandara Schiphol kita dapat menaiki bus ke Keukenhof, terlebih lagi di sana ada tersedia Combi tickets Keukenhof yaitu tiket masuk dan tiket bus pulang pergi dari Keukenhof ke Amsterdam. Terlebih lagi, di Keukenhof, kita tidak hanya dihibur oleh berbagai jenis bunga, tetapi juga dapat menaiki boat untuk mengelilingi sungai yang mengalir di sepanjang Keukenhof, sambil dimanjakan dengan pemandngan berhektar-hektar ladang tulip. Biasanya,aku akan pergi ke tempat itu seorang diri atau mengajak Kimberly, salah satu sahabat dekatku. Belanda juga memiliki Nationale Molendag-hari kincir angin Nasional- yang biasanya dilaksanakan serentak pada bulan Mei. Dulu ketika aku masih duduk di bangku sekolah dasar, ayahku biasanya membawa serta seluruh anggota keluarga ke festival kincir angin terbesar itu. Ah, sepertinya aku mulai merindukan ayah ibuku.

***

Hari ini memasuki minggu ketiga Bulan Desember. Natal sudah tinggal beberapa hari lagi. Jalanan semakin tampak cantik terutama di malam hari. Banyak lampu-lampu, pohon natal berbagai ukuran, tak ketinggalan pernak-pernik kecil seperti lonceng, kaus kaki, dan kotak-kotak kado yang bias dilihat dari balik kaca bening toko sepanjang jalan. Café tempatku bekerja bahkan menambah jam ekstra hingga pukul 10 malam. Alhasil, aku yang minggu ini mendapat shift sore hingga malam harus merelakan waktuku lebih lama di dalam café. Namun setidaknya, ada suatu hal yang membuatku sedikit bahagia meskipun harus berada lebih lama di café. Pria oriental yang biasanya datang saat jam makan siang beberapa hari terakhir terlihat pada saat jam makan malam tiba. Tentu saja hal itu sempat membuatku sedikit syok sekaligus bersuka cita atas bonus yang akan aku dapatkan setiap malam. Meskipun interaksi kami hanya tak lebih dari dua menit setiap hari, rupanya sudah cukup membuatku detak jantungku menjadi takikardi layaknya orang sehabis marathon.

Kulirik jam di dinding yang menunjukkan pukul sembilan lewat lima puluh lima menit. Bastian dan Grace,dua teman pelayan yang juga di shift yang sama denganku mulai bersiap-siap untuk menutup café. Satu-persatu pengunjung juga mulai bergegas ketika menyadari café sudah akan ditutup. Dari tempatku berdiri kulihat pria oriental itu membuka pintu café dan bergegas keluar. Aku memperhatikannya hingga punggungnya mulai tak terlihat di seberang jalan sana.

Segera kubereskan meja kasir dan mulai berjalan meunju ruang ganti untuk menukar seragam pelayan dengan pakaian kasual yang aku kenakan tadi sore. Setelahnya, aku bergegas berjalan menuju bagian depan café setelah mengambil tasku di loker penyimpanan.

“Bastian, Grace aku pergi dulu. Tot morgen!”

“Ya, hati-hati Stephanie. Goedenacht!”

Aku melangkah perlahan melewati jalanan yang sudah mulai sepi di area flatku tepat belokan pertama setelah jalan tempat café tadi berada. Tubuhku tiba-tiba bergidik ngeri merasakan ada seseorang yang sengaja mengikutiku. Tak ingin bersumsi macam-macam,kupercepat langkahku hingga nyaris seperti orang berlari kecil.

“Stephanie Kang.”

Aku tertegun dan berhenti melangkah saat mendengar sebuah suara yang sepertinya tidak asing lagi di telingaku. Tidak mungkin, ini tidak mungkin suara pria oriental itu.

“Stephanie Kang. Kau melupakanku semudah itu eoh?”

Butuh waktu beberapa detik untukku mencerna apa maksud ucapannya barusan. Yang kulakukan selanjutnya adalah berbalik menghadapnya dan menemukan pria itu tersenyum dengan lebarnya. Senyum yang terlihat sama persis dengan senyum seseorang yang kukenal. Senyum Kim Jino. Jino-ku.

“Kim Jino…”

“Butuh berbulan-bulan untukku mendengar bibirmu mengucap namaku. Apa aku sebegitu tidak berartinya di hidupmu, hmm?”

Hening menyelimuti kami dalam beberapa menit. Dia tampak sabar menunggu mulutku untuk mengucapkan sesuatu.

“Bodoh..”

“Apanya?”

“Kenapa selama ini kau tak pernah muncul sebagai Jino? Kenapa harus muncul dengan sosok yang begitu tak kukenal?”

“Aku hanya ingin kau yang menyadari tanpa harus kuberitahu. Dan hari ini adalah titik puncaknya. Aku tidak peduli kau memandangku sebagai siapa. Yang terpenting..bolehkah aku memelukmu sekali saja?”

***

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s