Link

Is It For Real? [Sequel of Misunderstanding]

jonginCast : Kim Jongin, Lee Naya
Genre : Romance, Friendship
Rating : G
Length : Ficlet

Untuk pertama kalinya aku menginjakkan kaki di tempat Jongin bekerja. Siang ini aku ingin memberikan kejutan padanya dengan mengantarkan makan siang hasil eksperimenku di dapur sejak pagi. Emm, rasanya tidak buruk. Awas saja jika dia tidak mau memakannya. Oh ya, sudah dua bulan ini aku bekerja sebagai salah satu konsultan sebuah perusahaan asing di Seoul setelah lima bulan yang lalu aku memutuskan untuk kembali ke negara asalku sesaat setelah aku menyelesaikan studiku di Belanda.

Aku menaiki lift yang akan membawaku ke lantai 27 yang merupakan lantai teringgi gedung ini sekaligus lantai dimana ruangan para pemilik jabatan tertinggi perusahaan berada. Setelah pintu lift terbuka aku berbelok kea rah kiri dan mulai menyusuri lorong dimana ada beberapa orang sedang berlalu lalang di dalamnya. Ah, itu dia Jongin. Tapi, siapa wanita yang tampak berbincang dengannya? Sepertinya mereka dekat sekali, cara mereka berbicara menunjukkan bahwa mereka lebih dari teman biasa. Aish, bahkan saat gadis itu bersikap manja Jongin membalas dengan mengelus rambutnya. Aku mematung sejenak merasakan sesak di dada melihat pemandangan itu. Aku tahu, aku tidak berhak cemburu, karena aku tidak mempunyai status yang benar untuk mengikat Jongin. Semenjak pertemuan pertamaku dengannya setelah kembali ke Seoul, Jongin hanya mengungkapkan bahwa dia mencintaiku tanpa memintaku untuk jadi kekasihnya. Sedikit kecewa memang, tidak bukan sedikit, aku terlanjur kecewa. Tapi aku menghibur diri dengan berpikir bahwa Jongin memang biasa mengatakan hal itu mengingat semasa sekolah dulu dia seorang playboy dan saat itu dia sedang terbawa suasana. Aku berusaha agar tidak besar kepala mendengar kata-kata cinta itu. Semakin hari aku semakin meyakini bahwa itu hanya sekedar ungkapan baginya. Buktinya, selama beberapa bulan ini kami jarang bertemu karena kesibukan masing-masing dan Jongin tampaknya tidak masalah dengan hal itu. See? Dia memang tidak pernah peduli sedangkan aku tampak seperti orang bodoh yang selalu menantinya.

Aku sudah memutuskan untuk berbalik ketika tiba-tiba tatapan Jongin beralih ke arah tempatku berdiri.

“Naya!”

Aku hanya tersenyum kecut menaggapinya dan memutuskan berjalan maju ke arahnya untuk segera memberikan kotak bekal ini dan langsung pergi setelahnya ketika kurasakan air mata sudah mulai menumpuk di sudut mataku.

“Naya..”

“Hmm. A-aku hanya ingin mengantarkan makan siangmu. Eommamu yang memasaknya.”

Dia hanya terdiam tidak menanggapi atau mengambil kotak makan yang kusodorkan. Tapi aku tahu tatapan matanya sedang menatapku tajam dan aku hampir bergidik merasakannya.

“Jongin..”

“Apa kau masih bisa lebih bodoh dari ini? Jelas kau tahu eommaku dan eommamu sedang di Busan dan tidak mungkin memasak untukku hari ini. Cih.”

Aku membeku beberapa detik dan kemudian menyadari betapa bodohnya aku yang tertangkap basah sedang berbohong padanya. Tapi aku tidak peduli lagi, air mataku sudah nyaris tumpah dan aku harus segera pergi dari sini.

“A-ah aish. Baiklah, ini aku yang memasaknya dan terserah padamu akan memakannya atau tidak. Aku pergi.”

Sebuah tangan menyentakku tepat setelah aku berbalik. Aku meringis merasakan tangan Jongin yang mencengkram tanganku erat.

“Sa-sakit Jongin.”

“Kau menangis?”

“Tidak.”

“Jangan berbohong lagi bodoh.”

“Aku tidak menangis dan berhenti menyebutku bodoh!”

“Jangan cemburu bodoh. Gadis yang kau lihat tadi adalah adik sepupuku. Kim Hani. Kau lupa? Ah apa yang kau ingat memang hal-hal yang berkaitan denganku hmm?”

“Mworago? Kau jangan terlalu percaya diri Tuan Kim. Dan aku tidak peduli dia sepupumu atau bukan. Itu bukan urusanku. Aku tidak cemburu dan berapa kali kubilang berhenti menyebutku bodoh!”

“Kau tidak cemburu ketika calon tunanganmu berbincang akrab dengan gadis lain? Astaga, gadis macam apa kau. Aku jadi ragu dengan fakta bahwa kau mencintaiku setengah mati.”

Keningku berkerut mendengar kalimatnya barusan.

“Mworago? Calon tunangan? Siapa yang akan menjadi tunanganku? Aku tidak pernah melamar seorang lelaki sepertinya.”

“Dasar bodoh. Tentu saja aku. Kau pikir untuk apa eommaku menemani eommamu ke Busan kalau tidak untuk memberitahu nenekmu tentang pertunangan kita.”

“Apa kau sedang mabuk Kim Jongin?”

“Apa maksudmu?”

“Aku pikir kau sedang tidak waras karena membicarakan tentang pertunangan dan semacamnya. Atau aku yang salah mendengar?”

“Bodoh.”

“Berhenti memanggilku bodoh!!”

“Sudahlah.”

“Jelaskan Jongin!”

“Apa yang harus kujelaskan? Apakah tentang pertunangan kita yang akan berlangsung minggu depan? Atau tentang aku yang sudah sejak lama merencanakan hal ini bersama kedua orang tuaku dan orang tuamu juga? Kau memang tidak pernah peka dan selalu berspekulasi bahwa aku tidak tidak peduli padamu selama beberapa bulan terakhir. Padahal, jelas-jelas kau adalah yang paling aku inginkan di dunia ini melebihi apapun Lee Naya!”

Aku merasa jiwaku kebas dan pergi entah kemana mendengar apa yang Jongin katakana barusan. Tuhan, jangan katakan bahwa ini bukan mimpi. Jangan, ini terlalu indah.

“Apa aku sedang bermimpi Jongin?”

Jongin menatapku dengan tatapan sendu untuk kemudian menarikku ke dalam pelukannya.

“Hmm, aku tidak akan menjawabnya. Kau jelas tahu jawabannya. Aku hanya akan mengatakan bahwa kau milikku, aku milikmu. Itu saja. Dan berhenti memasang ekspresi sebodoh itu Lee Naya.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s